SwaraJabar.com | Bogor – Dinamika organisasi masyarakat nasional mulai diwarnai langkah konsolidasi baru dari Hambalang. Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (ETH) resmi membangun delapan badan otonom, sayap, dan unit organisasi yang menyentuh sejumlah sektor strategis masyarakat. Langkah tersebut dituangkan melalui Keputusan Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang Nomor: 004/SK/DPN-ETH/SKPBOSUO-ETH/VI/2026 tentang Pembentukan Badan Otonom, Sayap, dan Unit Organisasi di Lingkungan Perkumpulan Elang Tiga Hambalang, yang ditetapkan di Hambalang pada 30 Juni 2026. Keputusan itu dapat menjadi babak baru konsolidasi ETH. Organisasi tidak hanya memperluas struktur, tetapi membangun jaringan yang menyentuh mahasiswa, petani, nelayan, buruh dan pekerja, pengusaha, koperasi, seni dan olahraga hingga media. Dalam perspektif politik kebangsaan, konfigurasi tersebut memiliki arti strategis. Kelompok-kelompok yang dihimpun merupakan bagian penting dari kekuatan masyarakat sipil dan pembangunan nasional. Delapan Mesin Konsolidasi Delapan perangkat organisasi yang dibentuk adalah: Jaringan Koperasi Serba Usaha Elang Tiga Hambalang, meliputi INKOP, PUSKOP dan PRIMKOP; Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang; Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang; Satuan Petani Elang Tiga Hambalang; Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang; Serikat Buruh dan Pekerja Elang Tiga Hambalang; Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang; dan Wartawan dan Wartawati PT Elang Tiga Media Nusantara. Keputusan DPN menempatkan badan otonom, sayap, dan unit tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Perkumpulan Elang Tiga Hambalang dalam hubungan organisatoris, pembinaan, koordinasi, penggunaan identitas organisasi, serta pelaksanaan kebijakan umum DPN. Dengan komposisi tersebut, ETH membangun jaringan yang menjangkau hampir seluruh lapisan strategis masyarakat. Dari Akar Rumput Menuju Panggung Nasional Yang membuat konsolidasi ini menarik adalah struktur sejumlah sayap ETH tidak berhenti di tingkat pusat. Satuan Nelayan, Satuan Petani, serta Satuan Pecinta Seni dan Olahraga, misalnya, memiliki jenjang hingga Koordinator Kecamatan dan Koordinator Desa/Kelurahan. Sementara perangkat lainnya juga memiliki struktur nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Artinya, kekuatan yang sedang dibangun tidak semata bertumpu pada elite organisasi. Desa dan daerah justru dapat menjadi medan utama konsolidasi. Dalam politik modern, kemampuan membangun jaringan akar rumput merupakan modal sosial yang penting. Organisasi yang mampu mendengar persoalan masyarakat dari tingkat paling bawah akan memiliki kemampuan lebih besar dalam membawa aspirasi tersebut ke tingkat nasional. Namun, SK tersebut sendiri tidak menetapkan ETH sebagai partai politik maupun menyatakan dukungan kepada partai, kandidat, atau kekuatan politik tertentu. Arah yang tertulis adalah memperluas partisipasi anggota, memperkuat kaderisasi, meningkatkan pelayanan masyarakat, serta mendukung tujuan dan program organisasi. Satu Komando Kebijakan, Satu Arah Gerakan Di tengah ekspansi struktur tersebut, DPN tetap memegang kendali terhadap arah strategis organisasi. Hubungan DPN dengan badan otonom, sayap, dan unit organisasi dijalankan berdasarkan prinsip satu komando kebijakan umum, koordinasi program, otonomi pengelolaan bidang, pembinaan berjenjang, dan pertanggungjawaban organisasi. Lebih jauh, kebijakan atau tindakan yang mengatasnamakan Elang Tiga Hambalang dan berdampak nasional, strategis, hukum, politik organisasi, keuangan, aset, kerja sama kelembagaan, maupun reputasi organisasi wajib memperoleh persetujuan tertulis DPN. Pesannya tegas: sayap boleh bergerak sesuai bidangnya, tetapi kebijakan strategis yang membawa nama ETH tetap berada dalam garis komando nasional. Politik Kerakyatan, Bukan Sekadar Perebutan Kekuasaan Konsolidasi ETH dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas mengenai politik kebangsaan. Politik tidak semata-mata berbicara mengenai pemilu, partai atau perebutan jabatan. Politik juga menyangkut bagaimana masyarakat mengorganisasikan kepentingannya, membangun posisi tawar, menyampaikan aspirasi dan ikut menentukan arah pembangunan. Petani berbicara mengenai pangan. Nelayan berbicara mengenai ekonomi kelautan. Buruh berbicara mengenai pekerjaan dan kesejahteraan. Mahasiswa membawa kekuatan intelektual dan kaderisasi. Pengusaha dan koperasi berbicara mengenai ekonomi serta kemandirian. Sementara media berada di ruang strategis informasi dan komunikasi publik. Ketika berbagai unsur tersebut dipertemukan dalam satu jaringan organisasi, ETH mempunyai peluang membangun kekuatan sosial yang semakin luas. H. Safrizal dan Ganda Satria Dharma di Balik Konsolidasi Keputusan strategis tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang H. Safrizal dan Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma, serta ditetapkan di Hambalang pada 30 Juni 2026. Langkah berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Pembentukan struktur harus diterjemahkan menjadi kaderisasi, program kerja, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, advokasi serta kegiatan nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Sebab sebuah kekuatan nasional tidak dibangun hanya dengan keputusan organisasi. Ia dibangun melalui kader yang bergerak, struktur yang hidup, jaringan yang solid, serta kepercayaan masyarakat. Peta Kekuatan Baru dari Hambalang? Apakah konsolidasi ini akan membuat Elang Tiga Hambalang menjadi kekuatan masyarakat sipil baru yang diperhitungkan secara nasional? Jawabannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan ETH menjalankan delapan perangkat organisasi tersebut di lapangan. Namun satu hal sudah terlihat: ETH sedang membangun infrastruktur organisasinya secara lintas sektor. Jika jaringan nasional hingga akar rumput tersebut benar-benar terbentuk dan mampu bergerak secara konsisten, suara petani, nelayan, mahasiswa, buruh, pengusaha dan berbagai unsur masyarakat yang dihimpunnya berpotensi menjadi kekuatan aspirasi yang semakin diperhitungkan. Dari Hambalang konsolidasi dimulai. Dari akar rumput kekuatan dibangun. Dan dari suara rakyat, Elang Tiga Hambalang menatap panggung nasional.(*/Red). ELANG TIGA HAMBALANG “Memperjuangkan, Memanusiakan, Menyejahterakan.” Navigasi pos Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Pejuang Suara Hati Rakyat, Siap Kawal Asta Cita YAMB Deklarasikan Freddy Wei, Saatnya Alumni Methodist Bagansiapiapi Bergerak Bersama