MBG dan Pembelajaran Sikap Syukur Bagi Murid

Oleh : Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan

SwaraJabar.com | Bogor – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan publik. Dalam perspektif lain, ia adalah anugerah yang Allah hadirkan melalui tangan pemerintah untuk rakyatnya. Nikmat yang patut disyukuri dan dijaga bersama oleh semua pihak, agar tujuan luhur di baliknya benar-benar terwujud. Tidak menguap dan dibelokkan.

Sebagai guru sekaligus PIC Program MBG di sekolah, saya merasakan langsung betapa program ini sangat bermakna dan membawa harapan. MBG bukan hanya soal menu makanan, tetapi tentang kehadiran negara yang nyata di tengah rakyatnya.

Namun, nikmat besar selalu datang bersama amanah besar. Program MBG harus dijaga dengan sebaik-baiknya oleh seluruh pihak yang terlibat. Para pejabat pengelola anggaran, pihak SPPG dan dapur, hingga pihak penerima manfaat, semuanya memikul tanggung jawab moral dan spiritual. Jangan ada korupsi, manipulasi, atau penyelewengan. Jangan ada yang menyalahi ketentuan. Sebab, merusak amanah berarti mengkhianati kepercayaan rakyat dan mengotori nikmat yang Allah karuniakan.

MBG adalah bukti konkret perhatian pemerintah kepada rakyatnya. Negara hadir bukan hanya lewat undang-undang dan peraturan, tetapi lewat makanan dan pelayanan yang bisa langsung dirasakan. Melalui berobat gratis, cek kesehatan gratis, sekolah gratis, juga makan siang gratis.

“Saya senang dengan adanya MBG. Saya tidak perlu jajan lagi untuk makan siang. Dan uang jajannya bisa saya tabung,” tutur Wildan Adzikri Maulana, Ketua MPK SMAN I Rumpin.

Hal yang sama disampaikan Gendis Oktriani, siswi kelas XI.1, menurutnya, “MBG sangat membantu siswa dan menyenangkan. Karena, membawa bekal makan dari rumah setiap hari itu, bukanlah hal yang mudah. Semoga MBG bisa terus berjalan dan selalu variatif menunya,” harap Gendis.

Begitulah rata-rata komentar positif para siswa. Tentu saja, di sana sini ada pro dan kontra. Itu hal yang biasa dan wajar dalam negara demokrasi seperti Indonesia. Kritik dan masukan adalah bagian dari proses penyempurnaan. Namun, menutup mata terhadap kebaikan yang nyata juga bukan sikap bijaksana.

Program MBG sendiri merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto, menuju Indonesia Emas 2045. Program ini mendukung salah satu misi Asta Cita, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Melalui MBG, pemerintah berupaya mengatasi persoalan gizi, mendukung tumbuh kembang anak, menjaga kesehatan ibu hamil dan ibu menyusui, serta meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Anak yang gizinya terpenuhi akan lebih sehat, lebih fokus belajar, dan lebih siap menyongsong masa depan.

Herlambang, S.Pd., selaku Pembina OSIS, ketika dimintai pendapatnya terkait MBG mengatakan, “Saya ikut gembira melihat para siswa bergembira menerima MBG. Saya yakin MBG sangat bermakna bagi siswa-siswi saya di SMAN I Rumpin.” Tegas guru yang selalu datang paling pagi tersebut.

Di sekolah, program MBG bisa dijadikan oleh para guru sebagai media pembelajaran nilai. Di antara pelajaran terpenting yang bisa ditanamkan kepada para siswa adalah karakter syukur. Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Bersyukur atas makanan yang diterima, atas perhatian negara, dan atas nikmat Allah yang sering kali datang melalui perantara manusia.

Betul memang, kalau mau diungkit-ungkit, dana MBG sesungguhnya juga dana kita sendiri, uang rakyat. Jadi, kita tidak perlu bersyukur dan berterima kasih kepada siapa pun. Tetapi, menurut saya persoalan yang ada tidaklah sesederhana itu. Maka, sebaiknya tetaplah bersyukur!

Allah telah menjanjikan balasan luar biasa bagi orang-orang yang pandai bersyukur. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan bahwa jika hamba bersyukur, niscaya nikmat Allah akan ditambah. Tambahan nikmat itu bisa berupa nikmat dunia —kesehatan, rezeki, kebahagiaan— dan juga nikmat agama, seperti taufik untuk taat dan dijauhkan dari kesesatan. Bersyukur menghadirkan ketenangan hati, membuka pintu rezeki yang lebih luas, dan menjauhkan dari adzab Allah.

H. Mulyono, M.Pd., selaku Kepala Sekolah berpesan kepada Tim MBG di sekolah, agar program MBG dapat ditangani dengan maksimal dan profesional, serta jangan sampai malah mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Harus dibagikan tepat waktu, dan diselesaikan tepat waktu. Pesan Pak Kepsek.

Akhirnya, marilah kita jaga setiap amanah yang Allah titipkan dengan sebaik-baiknya. Program MBG adalah nikmat, sekaligus ujian. Jika dikelola dengan profesional, akuntabel, dan penuh rasa syukur, ia akan menjadi pintu terbukanya nikmat-nikmat yang lain dan sebab lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. Namun jika tidak ditangani dengan baik, maka dia akan menjadi petaka. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur. Amin.(*/Red-MT/Rhidayatt).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *